WIRID SELEPAS SOLAT FARDHU:
Bismillahirrahmanirrahim,
Diringkaskan dari kitab ‘hidayatus salikin’, selepas solat bacalah:
1. ASTAGHFIRULLAH (3KALI)
2. ASTAGHFIRUL LAH HAL A’ZIM ALLAZI LAA ILA HA ILLA HUWAL HAYYUL QOYYUM WA A TUBU ILAIH
3. ALLAH HUMMA ANTAS SALAM WAMINKASSALAM, WA ILAIKA YA U’DUS SALAM, FAHAYYINAA ROBBANA BISSALAM, WA ADKHILNAL JANNATA DAROS SALAM, TABAROKTA ROBBANA WA TA NGALAITA, YA ZAL JALALI WAL IKROM.
4. A UZUBILLAHI MINASSYAITHONIRRAJIM, BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM, ALHAMDULILLAHIRABBIL NGALAMIN, ARRAHMANIRRAHIM, MAALIKIYAU MIDDIN, IYYAKANAKBUDU WA IYYA KANASTAIN, IHDINASSIRO THOL MUSTAQIM, SYIRO THOL LAZINA AN AMTA NGALAIHIM WALADDHOOOLLIN. AMIIN.
5. WA ILA HUKUM ILAAHUN WAAHIDUN, LAA ILAHA ILLA HUWARRAHMAANURRAHIM, ALLAHULAA ILAA HA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUM, LAA TAK KHUZUHU SINATUWWALA NAUM, LAHU MA FISSAMAWAA TIWAMA FIL ARD, MAN ZALLAZII YASYFA’U NGINDAHU ILLAA BI IZNIH, YAKLAMU MAA BAINA AIDIIHIM WAMA KHOLFAHUM, WALAA YUHIITUNA BI SYAI IN MIN NGILMIHI ILLAA BIMA SYAA’, WA SYI NGA’ KURSIYYUHUSSAMAWAATI WAL ARD, WA LAA YA U DHUHU HIFZHUHUMA, WA HUWAL NGA LIYYUL NGAZIM.
6. SYAHIDALLAHU ANNAHU LAA ILAA HA ILLAA HUWA WALMALA IKATU WA ULUL NGILMI QAIMAN BIQIST, LAA ILAA HA ILLA HUWAL NGAZIZUL HAKIM. INNADDIINA NGINDALLAHIL ISLAAM.
7. QULILLAA HUMMA MALIKAL MULKI TU’TIL MULKA MAN TASAA’, WATAN ZI NGUL MULKA MIMMAN TASAA’, WATU NGIZZU MAN TASAA’, WA TU ZILLU MAN TASAA’, BI YA DIKAL KHAIR INNAKA NGALA KULLI SYAI’IN QADIIR. TULIJUL LAILA FINNAHAR, WA TUU LIJUNNAHARRA FILLAILI, WATUKH RIJUL MAYYITA MINAL HAYYI, WA TARZUQU MAN TASAA’ U BI GHAIRI HISAB.
8. SUBHAANALLAH (33@100KALI) pahala seperti mengerjakan haji dan umrah.
9. SUBHAANALLAH WABIHAM DIHI pahala di ampunkan dosa walau sebanyak buih dilautan.
10. ALHAMDULILLAH (33@100KALI) pahala seperti berperang fisabilillah.
11. ALHAMDULILLAHI NGALA KULLI HALIN
12. ALLAHUAKBAR (34@100KALI)
13. LAA ILAA HA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYAARIIKALAH, LAHUL MULKU WA LAHULHAMDU WA HUWA NGALA KULLI SYAI’IN QADIR. WALA HAWLAWALA QUWWATA ILLAA BILLAA HIL NGALIYYIL NGAAZIIM. Pahala meluaskan dan membanyakkan tanaman di syurga.
14. ALLAHUMMA LAA MAANI NGA LIMAA AK THOI TA, WA LAA MUQTIYA LI MAA MANA’TA, WA LAA RADDA LI MAA QO DHOI TA, WA LAA YAN FA NGU ZHAL JADDI MINKAL JADDU.
15. ALLAA HUMMA SOLLI NGALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN NGABDIKA WA RASUULIKANNABIYYIL UMIYYI, WA NGALA AALIHI WASOHBIHI WASALLAM, KULLAMA ZAKAROKAZZAKIRUUNA, WA GHOFALA NGAN ZIKRIKAL GHOFILUUN, WARO DHI YALLAAHU TABAROKA WA TA NGALA NGAN SAADAATINAA ASH HAABI SAYYIDINAA RASUULILLAAHI AJMA NGIN.
16. WA HASBUNAALLAHU WA NIKMAL WAKIIL. WA LAA HAWLAWALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL NGALIYYIL NGAZIM.
17. ASTAGHFIRULLAH (3KALI)
18. YAA LATIF FU YAA KAFI, YAA HAFIZU YAA SYAFI, YAA LATIIFU YAA KAFII, YA HAFIIZU YAA SYAAFI, ALLAH, YAA LATIIFU YAA WAAFI, ALLAH, YA KAARIIMU ANTALLAH
19. LAA ILAA HA ILLALLAH (10KALI) pahala seperti memerdekakan hamba.
20. LAA ILAAHA ILLALLAH MUHAMMADUR RASUULULLAH, KALIMATU HAQQUN NGALAIHI NAHYA WA NGALAINA NAMUT, WA NGALAIHAA WABIHAA NUB NGASU INSYA ALLAHU TA NGALA MINAL AA MINIINA BIROHMATILLAHI WA KAROMIHI.
__________________________________________________________
WIRID WALI-WALI ALLAH:
Dibaca sebelum tidur setiap malam:
1. YAA LAA ILAA HA ILLA ANTA SUBHAANAKA INNI KUNTU MINAZ ZHOLIMIN (40KALI) wirid nabi Yunus.
2. WALLAHU GHALIBUN NGALAA AMRIHI (33kali) wirid sayyidina Ali.
3. YAA HAYYUN YAA QAYYUUMU YAA ILAA HANA WA ILAAHA KULLA SYAI’IN ILAAHAN WAAHIDAN LAA ILAA HA ILLA ANTA (33KALI) wirid Asif barkhiya’.
4. YAA ZHAL JALAALI WAL IKRAAMI (300KALI) wirid Imam Ghazali.
DAN Hadiahkan Surah Al-Fatihah kepada:
a. Ruh Rasulullah saw
b. Nabi Khidir as
c. Ruh Syaikh Abdul Qadir Jailani
d. Ruh arwah ibubapa, guru-guru, orangtua dan sekalian muslimin muslimat.
Posted 22 hours, 26 minutes ago at 1:12 pm. Add a comment
Black Pepper Chicken Chop
BAHAN-BAHANNYA ( 2 orang ):
*UNTUK DIPERAP*
• 2 paha ayam (kalo suke, debone kan. kalo malas, biar je tulang nye)
• 2 ulas bawang putih (cincang)
• 1 cm halia (cincang)
• 1/2 sudu teh serbuk lada hitam
• 2 sudu besar sos cili
• 1 sudu besar sos tomato
• 1 sudu besar sos Lee & Perrins
• 1 sudu besar kicap manis
• 1 sudu besar kicap masin
• 1 sudu besar sos tiram
• 1 sudu besar madu
• garam secukup rasa
• *SOS BLACK PEPPER*
• 1/2 botol sos lada hitam
• 2-3 sudu besar sos tiram
• 3-4 cendawan butang (cincang)
• 1/2 biji bawang besar (cincang)
• garam/gula secukup rasa
CARA-CARANYA:
1. gaulkan ayam dengan bahan perapan dan biarkan semalaman. Cucuk-cucukkan ayam dengan garfu supaya bahan perapan dpt diserap dengan elok.
2. selepas diperap semalaman, sediakan non-stick pan untuk tujuan menggoreng ayam. Goreng dengan minyak yg sedikit saja dan tutupkan pan sehingga ayam dah separuh masak.
3. balik-balikkan ayam sehingga masak (tapi jgn terlalu masak agar ayam tetap juicy).
4. lebihan bahan perapan tadi boleh la dijadikan sos utk dituangkan ke atas ayam yg dah siap.
5. tapi kalau rasa tak cukup sos marinate itu, boleh sediakan sos black peppernya seperti yang tertera di atas.
6. caranya dengan memasak bahan2 sos black pepper selama satu minit dan adjust la kepekatannya dengan menambah sedikit air, garam dan gula secukup rasa. OK?
selamat memasak!
Posted 4 days, 22 hours ago at 1:25 pm. Add a comment
JUMAAT : YA ALLAH - 1,000 KALI,
ALLAH HAMPIR KEPADA KITA,
ALLAH BERI KITA SOLAT, ISLAM, RAJIN, SUKA, LAZAT, BERAMAL IBADAH, TIDAK MALU TUTUP AURAT BAGI PEREMPUAN.
SABTU : LAA ILAHA ILLA ALLAH - 1,000 KALI,
SENANG HATI, AMAN DAN TENTERAM.
AHAD : YA HAYYU YA QAYYUM - 1,000 KALI, ALLAH HIDUPKAN
KITA DAN BERI PELIHARAANNYA.
ISNIN : LAA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLA HIL ALIYYIL AZIM - 1,000 KALI,
SATU KALIMAT UMPAMA SATU BUKIT UHUD.
BANYAK KALI SEBUT HILANGLAH SIFAT MENUNJUK-NUNJUK, KEJI, RIAK, TAKABBUR, SAYANGKAN DUNIA DAN SEBAGAINYA.
SELASA : ALLAHUMMA SOLLI ALA MUHAMMADIN ABDIKA WARUSULIKA NABIYYI WA UMMIYYI WA’ALA ALIHI WASOHBIHI WABARIK WASALLIM - 1,000 KALI,
ALLAH AMPUNKAN DOSANYA SATU TAHUN (KALAU NAK PENDEK
SELAWAT KE ATAS NABI)
RABU : ASTAGHFIRULLAH AL’AZZIM AL-LAZI LAA ILA HA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUM - 1,000 KALI,
SATU KALI SEBUT HILANG SATU TITIK HITAM DALAM HATI KITA. SATU TITIK HITAM ADALAH DARI SATU DOSA,
JIKA TIDAK MEMINTA MAAF (MENGHILANGKANNYA) WALAUPUN SEMBAHYANG,KITA AKAN MASUK NERAKA SELAMA MANA TITIK HITAM TERSEBUT
BERADA DALAM HATI KITA.
KHAMIS : SUBHANALLAHIL AZIMI WABIHAMDIH - 1,000 KALI,
ALLAH AMPUNKAN DOSA SEBANYAK BUIH DILAUT, DAN SATU KALI SEBUT TUMBUH
SATU POHON SYURGA UNTUK KITA DI TAMAN SYURGA.
Posted 6 days, 22 hours ago at 1:12 pm. Add a comment
Tips Membangun Rumah Islami
Author : Syiarislam
Dalam membangun rumah yang baik, sering orang menggunakan Feng Shui yang berasal dari budaya Cina. Padahal tidak semuanya selaras dengan ajaran Islam. Jika keliru, mungkin bisa terjerumus dalam kemusyrikan karena mempercayai adanya kekuatan selain Allah yang bisa menyelamatkannya. Dalam membangun rumah
yang Islami, sebetulnya dalam Islam ada beberapa petunjuk untuk itu. Di antaranya:
1. Tetangga yang Baik
Pilihlah rumah di antara tetangga yang baik (kecuali jika anda adalah da’i yang ingin melakukan perbaikan). Sebab jika tetangga anda tidak baik, maka hidup anda akan merasa kurang nyaman. Bayangkan jika tetangga anda adalah
preman, pezina, atau pemabuk.
Pilihlah tetangga (lihat calon tetangganya atau lingkungannya dulu) sebelum memilih rumah. Pilihlah kawan perjalanan sebelum memilih jalan dan siapkan bekal sebelum berangkat (bepergian). (HR. Al Khatib)
Nabi Saw berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang buruk di tempat pemukiman. Sesungguhnya tetangga-tetangga orang-orang Badui suka berpindah-pindah.” (HR. Ibnu ‘Asakir)
Tiap empat puluh rumah adalah tetangga-tetangga, yang di depan, di belakang, di sebelah kanan dan di sebelah kiri (rumahnya). (HR. Ath-Thahawi) .
Usahakan agar tetangga anda cukup makannya: “Tiada beriman kepadaku orang yang bermalam (tidur) dengan kenyang sementara tetangganya lapar padahal dia mengetahui hal itu.” (HR. Al Bazzaar)
2. Hendaknya rumah cukup luas (tidak terlampau luas, tapi juga tidak terlampau sempit).
Di antara kebahagiaan seorang muslim ialah mempunyai tetangga yang shaleh, rumah yang luas dan kendaraan yang meriangkan. (HR. Ahmad dan Al Hakim)
Rumah yang terlampau luas, misalnya 400 m2 lebih, cenderung menghasilkan “Rumah Gedong” di mana tetangga satu tidak kenal dengan tetangga lainnya. Para penghuni masing-masing asyik di dalam “Istana” mereka.
Sebaliknya rumah yang terlalu sempit, misalnya kurang dari 50 m2 cenderung membuat penghuninya tidak betah di rumah sehingga akhirnya banyak menghabiskan waktunya mengobrol/gosip dengan para tetangganya.
Luas rumah yang ideal (pertengahan) adalah sekitar 100-200 m2.
3. Jangan Membangun Rumah Megah
Dalam membangun rumah, janganlah terlalu mewah sehingga jadi bermegah-megahan. Ini tidak disukai Allah dan merupakan satu sifat dari orang-orang yang buruk di akhir zaman.
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” [At Takaatsur:1]
Ketika ditanya tanda-tanda hari kiamat Nabi menjawab: “Apabila para penggembala domba saling bermegah-megahan dengan gedung” [HR Muslim]
Belum akan datang kiamat sehingga manusia berlomba-lomba dengan bangunan-bangunan yang megah. (HR. Bukhari)
Jangan membangun rumah yang terlampau tinggi (misalnya sampai 4 tingkat) sehingga akhirnya tetangga tidak mendapat sinar matahari atau angin.
Ketika ditanya tanda-tanda hari kiamat Nabi menjawab: “Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung-gedung bertingkat.” [HR Muslim]
4. Buatlah Rumah yang Baik
“… menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” [Al A'raaf:157]
Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” [Al Maa-idah:100]
Rumah yang baik adalah rumah yang sehat. Yaitu jendelanya cukup sehingga sinar matahari bisa masuk dan tidak lembab. Ini juga bisa menghemat listrik karena siang hari tak perlu menyalakan lampu. Selain itu ventilasinya juga
harus baik sehingga udara segar bisa masuk ke dalam rumah. Jarak antara lantai dan atap sebaiknya agak tinggi (minimal 2,5 meter) sehingga tidak terlalu panas.
5. Rumah juga harus kuat dan aman.
Misalnya dengan menggunakan beton bertulang, rumah jadi lebih aman jika misalnya terjadi gempa. Jika menggunakan kayu, pilih kayu yang kuat serta beri anti rayap sehingga tidak mudah kropos. Harus diperhatikan apakah rumah tersebut rawan dari kebakaran atau tidak.
Sebaiknya rumah minimal terdiri dari 3 kamar. Satu untuk suami-istri, satu untuk anak laki-laki, dan satu lagi untuk anak perempuan. Banyak kasus incest terjadi karena kamarnya hanya satu sehingga pria-wanita bercampur.
Hendaknya aurat dari lawan jenis (kecuali suami-istri) terpelihara dengan pembagian kamar yang baik.
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah
sembahyang Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu” [An Nuur:58]
6. Buatlah Rumah yang Indah
Allah senang keindahan. Manusia pun banyak yang suka akan keindahan. Oleh karena itu buatlah rumah yang indah. Tapi ingat, keindahan tidak sama dengan kemewahan atau kemegahan
Sesungguhnya Allah indah dan senang kepada keindahan. Bila seorang ke luar untuk menemui kawan-kawannya hendaklah merapikan dirinya. (HR. Al-Baihaqi)
7. Rumah Harus Bermanfaat atau Fungsional
Selain indah setiap bagian rumah juga harus bermanfaat/fungsion al. Jadi tidak hanya sekedar estetis tapi tidak bermanfaat.
Dari Abu Hurairoh ra, dia berkata: “Rasululloh SAW bersabda: “Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorangialah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat.” (Hadits hasan, diriwayatkan Tirmidzi dan lainnya)
8. WC (Tandas) Jangan Mengarah/Membelakan gi Kiblat
Dari Abu Ayyub Al-Anshari ra.: “Bahwa Nabi saw. bersabda: Apabila engkau ke WC, janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya ketika kencing atau buang air besar, tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat.” (Shahih Muslim No.388)
Usahakan agar rumah anda mengarah ke kiblat. Jika tidak, sebaiknya tempat shalat anda tidak mengarah ke WC.Usahakan di rumah ada shower atau kran air, sehingga anda bisa mandi/wudlu dengan lebih sempurna dengan air yangmengalir.
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah seseorang di antara kamu mandi dalam air yang tergenang (tidak mengalir) ketika dalam keadaan junub.” Dikeluarkan oleh Muslim.
Sebaiknya tempat wudlu dipisah dari WC sehingga anda leluasa membaca doa sebelum atau sesudah wudlu.
9. Rumah Harus Bersih
Rumah yang kotor tidak sehat. Karena akan mengundang berbagai penyakit. Oleh karena itu rumah harus bersih dan mudah dibersihkan.
“Sesungguhnya Allah baik dan menyukai kebaikan, bersih dan menyukai kebersihan, murah hati dan senang kepada kemurahan hati, dermawan dan senang kepada kedermawanan. Karena itu bersihkanlah halaman rumahmu dan jangan meniru-niru orang-orang Yahudi.” (HR. Tirmidzi)
Penjelasan: Orang-orang Yahudi suka menumpuk sampah di halaman rumah.
10. Jangan Menaruh Patung di dalam Rumah
Umar berkata, “Kami tidak memasuki gereja-gerejamu karena patung-patung dan gambarnya itu.” [HR Bukhari]
Ibnu Abbas shalat di dalam biara (tempat ibadah agama lain) kecuali biara yang ada patung di dalamnya. [HRBukhari]
11. Jangan Memelihara Anjing
Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata : “Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa memiliki anjing selain anjing penjaga ternak dan anjing pemburu maka setiap hari pahala amalnya berkurang dua qirath.” (Shahih Muslim No.2940)
12. Peliharalah Anak Yatim
Jika anda berkelebihan, asuhlah anak yatim dan perlakukanlah dengan baik.
Sebaik-baik rumah kaum muslimin ialah rumah yang terdapat di dalamnya anak yatim yang diperlakukan (diasuh) dengan baik, dan seburuk-buruk rumah kaum muslimin ialah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim tapi anak itu diperlakukan dengan buruk. (HR. Ibnu Majah)
13. Tanamlah Pohon agar Teduh dan Sejuk
Tanamlah pohon di rumah anda sehingga rumah anda teduh dan mendapat udara segar dari oksigen yang dikeluarkan pohon tersebut. Kenyamanan naungan pohon ini digambarkan Allah sebagai berikut:
“Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya.” [Al Insaan:14]
Jika rumah anda luas mungkin anda bisa menanam pohon besar yang kuat seperti pohon asem. Jika sedang, bisa menanam pohon ukuran sedang seperti rambutan atau mangga. Hindari pohon besar yang rapuh dan berbahaya seperti pohon angsana. Banyak korban jiwa karena tertimpa pohon tersebut ketika terjadi badai/angin kencang.
Semoga bermanfaat …
Wassalam,
Posted 1 week, 1 day ago at 1:08 am. Add a comment
JALAN MENUNDUKKAN NAFSU
Nafsul Mutmainnah
Al-Imam Busiri di dalam Burdahnya yang masyhur ada menyebutkan, “Nafsu bak seorang anak kecil, jika dibiarkan menyusu, dia kan membesar dalam keadaan ingin menyusu sahaja, tetapi jika engkau cuba mencerai susukan dia, akan terputus keinginannya pada susu tersebut.”
Tamsilan Imam Busiri ini ana selalu bawakan. Cuba perhatikan apabila seorang ibu ingin mencerai susukan anaknya. Tentu sekali si anak meronta dan menangis tak henti. Meminta-minta supaya disusukan oleh si ibu. Akan tetapi, berapa lamakah agaknya tangisan itu berterusan? Apabila berhenti dari menangis, lama kelamaan, si bayi sudah tidak teringin kepada susu ibunya. Tenanglah dia.
Begitu juga anak kecil yang inginkan sesuatu dari kedai. Sejenis mainan contohnya. Menangis meronta meminta dari ayahnya mohon dibelikan mainan tersebut. Jika si ayah berkeras tidak mahu membeli, akhirnya diam juga si anak, bila diketahui tangisannya takkan berhasil. Tenanglah dia.
Nafsu kita juga begitu. Perlu ditarbiah. Mesti dididik. Patut diajar bahawa kita takkan mengikuti sahaja kehendaknya, takkan tunduk patuh kepada permintaannya. Engkau makhluk Allah yang dicipta untuk membantu aku mencapai tahap yang mulia, bukan dicipta untuk aku mengikut perintah engkau. Tentu sekali susah mulanya.
Hendak bangun di awal pagi yang dingin, ketika manusia lain nyenyak dibuai mimpi. Hendak meninggalkan sesuatu yang seronok dilakukan untuk solat contohnya. Hendak meninggalkan tabiat bermesra dengan manusia lawan jantina. Hendak meninggalkan keseronokan dunia, untuk mencari keredhaan Allah. Tentu memberontak sungguh nafsu ini. Meronta-ronta memohon kita mengikuti kehendaknya.
Mujahadahlah. Usahalah sedayanya agar dilawan juga nafsu itu. Mohonlah bantuan Allah agar mendapat kejayaan menundukkannya. Sukar sekali bukan? Tentu sukar mulanya. Akan tetapi percayalah, jika nafsu yang meronta-ronta itu kita tidak hiraukan, kehendaknya tidak dilayan, hanya kerana Allah, lama kelamaan nafsu kita kan tenang jua akhirnya. Bangun di tengah malam bertambah seronok. Menanti waktu solat bak menanti kekasih yang akan datang. Tidak bermesra dengan jantina yang lain (yang tidak halal ya), tidak terasa apa pun kurangnya. menghayati Al-Quran bergetar hati. Membaca kitab ilmiah terasa indah. Kerana ketika itu nafsu kita tenang bak anak kecil tadi. Moga Allah kurniakan kita hati yang tenang itu.
Habib Ali menceritakan perihal nafsu dan hikmahnya. Mutiara kata yang terbit dari beliau benar-benar menyejukkan hati ini. Katanya, ada tiga hikmah utama, nafsu disuburkan dalam jiwa manusia.
1) Istimrar (kesinambungan)
2) Isti’nas (kerinduan dan keinginan kepada sesuatu)
3) Ba’is lilhimam (faktor pencetus kepada kekuatan)
Manusia memerlukan makanan untuk kesinambungan nyawanya. Memerlukan perkahwinan untuk kesinambungan spesis manusia. Usah disalahkan nafsu. Tanpa nafsu, tidak ada manusia yang ingin berkahwin. Manusia juga perlukan nafsu makan faktor penguat untuk berusaha mencari rezeki. Manusia juga memerlukan nafsu perkahwinan sebagai pencetus untuk berusaha mendapatkannya, dan memperbaiki kedudukan diri. Begitu jualah pada setiap jenis nafsu. Hikmah pertama dan ketiga ini mudah dikecap oleh fikiran yang terbuka dan hati yang beriman.
Namun apa yang ana tertarik adalah pada huraian hikmah kedua, iaitu isti’nas. Habib Ali memberikan contoh, seorang anak kecil yang ditunjukkan gambar sebuah basikal, dan dijanjikan untuknya sebuah basikal oleh si ayah jika belajar bersungguh-sungguh. Tentu sekali si anak tadi, sudah merasa nikmat melihat gambar tersebut, dan sudah bernafsu untuk mendapatkannya. Namun nikmat yang sebenar adalah apabila dia benar-benar mendapatkan basikal itu daripada si ayah.
Begitu jualah kita di dunia ini. Apabila kita bernafsu untuk makan, jadikanlah makanan yang kita nikmati itu mengingatkan dan menguatkan pula keinginan kita untuk mendapatkan makanan yang jauh lebih lazat di Syurga. Anggur yang dimakan, susu yang diminum, takkan sama di dunia dan di akhirat. Setiap biji anggur yang kita nikmati di dunia, cuba kita bayangkan pula nikmat yang jauh lebih besar di Syurga, yang mana nikmatnya tidak ada mata yang mampu menggambarkannya, tidak ada telinga yang mampu mengecapnya dan tidak terlintas di hati manusia di dunia.
Nafsu perkahwinan, di dunia, sewajarnya mengingatkan kita pula akan perkahwinan di akhirat. Tak kira anda berkahwin dengan seorang wanita mahupun berpoligami di dunia sementara ini, jadikan ia penguat untuk mendapatkan Syurga Firdaus. Usahakanlah agar perkahwinan itu mampu menguatkan diri agar merindui akhirat.
Nafsu mendapatkan pangkat dan kedudukan di dunia, patut mengingatkan kita agar merindui kedudukan di sisi Allah di dalam Syurga. Kedudukan yang tiada taranya. Tentu sekali nafsu yang terbaik adalah apabila mengharapkan kedudukan (manzilah) di sisi Allah ketika di dalam dunai ini lagi. Bak, sebuah Hadis Qudsi, apabila kita menyebut nama Allah dalam satu kumpulan, Allah akan menyebut nama kita di dalam perkumpulan yang jauh lebih baik daripada perkumpulan kita itu. Bukankah itu satu kedudukan yang kita ingin kecap di dunia ini? Namun itu semua sepatutnya menyebabkan kita lebih merindui nikmat kedudukan di dalam Syurga. Khususnya, nikmat yang tidak terbanding apabila dianugerahkan Allah melihat kepada-Nya di dalam Syurga nanti. Segala nikmat di dunia ini akan terasa remeh malah tidak berharga, jika kita mendapat nikmat Allah di Syurga-Nya.
Keinginan yang dikecap dengan nikmat mendapat doa yang mustajab pun takkan sama dengan nikmat di syurga. Malahan nikmat beribadat di tengah malam juga (seperti mana kalam para salafussoleh, nikmat beribadat di tengah malam adalah nikmat teragung di dunia ini), tidak dapat mengalahkan nikmat kedudukan yang tinggi di sisi Allah Ta’ala di Syurga nanti.
Moga setiap nafsu kita di dunia ini dapat menguatkan lagi keinginan kita untuk mendapatkan yang lebih baik lagi di akhirat kelak. Moga Allah memasukkan kita dalam golongan yang mendapat nikmat di atas nikmat di dalam Syurga-Nya nanti. Amiin.
Posted 2 weeks, 1 day ago at 1:23 am. Add a comment
MENGAPA TAUHID TIGA SERANGKAI?
Dipetik dari utusan.com.my
Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN
SEJAK kemasukan Islam ke Tanah Melayu, umat Islam di negara ini kuat berpegang dengan akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah (ASWJ) yang disusun atau diformulasikan oleh dua tokoh terbesar dalam bidang ilmu tauhid iaitu Imam Abu al Hasan al Asy’ari r.a
dan Imam Abu Mansur al Maturidi r.a. Perkara ini telah ditegaskan oleh ulama ulung Tanah Melayu, al Allamah Sheikh Abdullah Fahim.
Beliau juga menyatakan bahawa ia telah menjadi ijmak ulama di Tanah Melayu.
Antara kenyataannya berbunyi: “Tuan-tuan sedia maklum beratus-ratus tahun bahawa orang bangsa Melayu seMelaya ini dari peringkat ke bawah hingga peringkat ke atas; awam-awam, kadi-kadi, ulama-ulama, menteri-menteri, hingga Raja-raja sekalian mereka itu bermazhab dengan mazhab al Imam al Syafi’e r.a ijma’an (ijmak), tiada seorang pun yang bermazhab lain daripada mazhab Syafi’e. Usuluddin atas perjalanan Abi al Hasan al Asy’ari r.a. Diambilkan dari Syuruh dan Hawasyi Ummu al Barahin dan Jauharah dan sebagainya daripada kitab-kitab Melayu”.
Di dalam kitab ini, pendekatan Sifat 20 digunakan bagi memahami permasalahan ketuhanan. Pendekatan ini juga diguna pakai di kebanyakan negara-negara Islam yang berpegang dengan akidah ASWJ seperti di Mesir, Syria dan Morocco.
Ia juga menjadi silibus di kebanyakan universiti di dunia Islam termasuklah universiti Islam terulung di dunia, Universiti al Azhar al Syarif.
Sejak doktrin ini diguna pakai di negara kita, kita berupaya mengecapi nikmat keamanan beragama dan ketamadunan negara. Tidak seperti negara-negara Islam lain yang memakai acuan yang bercanggah dengannya seperti aliran fahaman Syiah, Muktazilah, Musyabbihah dan sebagainya.
Tidak timbul di dalam doktrin Sifat 20 ini soal-soal kepincangan dan percanggahannya dengan akidah ASWJ yang tulen.
Namun, setelah ratusan tahun pendekatan ini digunakan tanpa sebarang masalah dalam menjaga kemurnian tauhid dan akidah umat Islam, timbul desas-desus yang mengatakan bahawa ia diambil dari Falsafah Greek.
Malah, tidak lagi sesuai dijadikan sebagai pendekatan dalam pembelajaran ilmu Tauhid. Sementelahan itu juga, pendekatan tauhid tiga serangkai yang dirumuskan oleh Ibnu Taimiyyah menjadi pengganti Doktrin Sifat 20.
Usaha-usaha untuk menukar pendekatan tauhid tiga serangkai ini dalam kurikulum pendidikan negara juga nampaknya begitu pantas dilakukan.
Lebih pantas! Dapatkan 4G P1 W1MAX
Persoalannya, kenapakah tiba-tiba pendekatan ini pula yang perlu dipilih sebagai pengajaran ilmu tauhid di negara kita? Adakah pendekatan Sifat 20 mengandungi unsur-unsur yang mengelirukan atau terseleweng dari iktikad ASWJ?
Adakah pembahagian tauhid tiga serangkai ini telah dinaskan oleh syarak dan terdapat dalil-dalil yang menunjukkan ke atasnya? Apakah kita pasrah sahaja dengan pendapat yang mengatakan doktrin Sifat 20 yang kita pegang dan pakai selama ini bukan tauhid yang benar tetapi diambil dari fahaman falsafah Greek.
Jika begitu, semua orang yang berpegang dengan Tauhid 20 mengikut ajaran yang salah dan sesat. Apakah boleh kita terima penyesatan ini yang melibatkan nenek moyang kita, para ulama kita dan majoriti umat Islam di seluruh dunia?
Dibawa Rasullulah SAW
Kita telah sedia maklum, bahawa akidah ASWJ yang diketahui secara umum ialah akidah yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan diikuti oleh sahabat-sahabat baginda.
Tidak kedapatan langsung, perkataan yang terkeluar daripada Rasulullah SAW dan sahabat baginda yang menyebut tentang tauhid yang digembar-gemburkan oleh pengikut Ibnu Taimiyyah dan Wahhabi ini.
Begitu juga dalam metodologi ASWJ yang telah disusun oleh pelopornya, Imam Abu al Hasan al Asy’ari r.a dan Imam Abu Mansur al Maturidi r.a, tidak pernah menggariskan tauhid ini dalam ruang lingkup akidah ASWJ.
Apa yang kita dapati tauhid ini telah ditimbulkan dan direka oleh Ibnu Taimiyyah dan dikembang biakkan pula oleh anak-anak muridnya sehingga ke generasi Muhammad ibn Abdul Wahhab. Dalam erti kata lain, tauhid inilah yang menjadi pegangan golongan Wahhabi secara khusus.
Sejak dahulu lagi hinggalah ke hari ini, telah terdapat banyak penentangan dan penolakan yang diutarakan oleh ulama terhadap Tauhid 3 Serangkai ini.
Oleh yang demikian, kita melihat di dalam kitab-kitab penulisan ulama ASWJ, terdapat banyak butiran lanjut mengenai penolakan mereka terhadap tauhid yang direka cipta ini.
Jika kita menyoroti dari perspektif ulama tersebut, kita mendapati ulama al Azhar telah bersetuju mengeluarkan kenyataan tentang kesalahan tauhid ini yang sebenarnya telah direka dan dicipta oleh orang-orang yang terkeliru dengan maksud sebenar ayat al-Quran dan hadis.
Justeru, kenapa pula kita perlu memakai pendekatan Tauhid 3 Serangkai yang mengandungi kepincangan dan telah ditolak oleh ulama kecuali Ibnu Taimiyyah dan pengikut-pengikutnya?
Untuk lebih jelas lagi, di bawah ini disenaraikan beberapa cendekiawan dan sarjana Islam dan kitab penulisan mereka yang mengandungi penolakan terhadap ajaran tauhid rekaan ini:
*Al ‘Allamah al Mufassir al Muhaddith Sheikh Yusof al Dijwi RA, Ahli Lembaga Majlis Ulama Besar al Azhar.
Beliau mengeluarkan fatwa penolakan al Azhar terhadap tauhid rububiah dan uluhiah. Kenyataannya ini dipaparkan dalam Majalah Nur al Islam edisi tahun 1933 yang merupakan lidah rasmi al Azhar pada masa itu.
Fatwa yang dikeluarkannya ini, turut dipersetujui oleh ulama al Azhar yang lain tanpa adanya sebarang bangkangan. Sehingga hari ini, fatwa tersebut masih lagi segar. Ini dapat dilihat dalam beberapa majalah yang diiktiraf oleh al Azhar. Antaranya, di dalam majalah al Muslim. Al Muhaddith al ‘Allamah Sheikh Muhammad Zaki Ibrahim r.a telah mengeluarkan kembali fatwa ini dalam majalah tersebut.
*Al Muhaddith al ‘Allamah Sheikh Salamah al Qudha’i al ‘Azzami al Syafi’i r.a dalam kitabnya al Barahin al Sati’ah fi Raddi b’ad al bida’ al Syai’ah.
Kitab ini telah mendapat pengiktirafan dan pujian daripada muhaddith pada zaman tersebut iaitu al ‘Allamah Sheikh Muhammad Zahid al Kauthari r.a.
*Al Allamah al Muhaddith Prof. Dr. Sayyid Muhammad ibn Alawi al Maliki al Hasani, ulama besar di Mekah al Mukarramah dan bekas tenaga pengajar Masjid al Haram yang diakui ilmunya oleh ulama pada zaman ini.
Beliau telah menulis penolakannya terhadap tauhid ini dalam kitabnya Huwallah. Bahkan beliau menyarankan kerajaan Arab Saudi supaya mengkaji semula pengajaran tauhid ini di institusi pengajian rendah, menengah dan Tinggi di dalam Muktamar Hiwar al Watoni di Mekah yang diadakan pada 5/11/1424 hingga 9/11/1424. Ia disebut di dalam kertas kerja beliau yang bertajuk al Ghuluw.
*Mufti Besar Mesir, Prof. Dr. Ali Jumu’ah.
Beliau turut menyentuh masalah ini di dalam laman web beliau ketika menjawab soalan yang dikemukakan kepadanya. Iaitu, tentang seorang pemuda yang mengkafirkan seluruh penduduk kampung kerana bertawassul dengan mendakwa orang yang bertawassul tergolong dalam golongan musyrikin yang beriman dengan tauhid rububiah tetapi tidak beriman dengan tauhid uluhiah.
Beliau menolak sekeras-kerasnya pembahagian tauhid ini dengan mengatakan bahawa pembahagian tauhid ini adalah perkara rekaan yang tidak pernah datang dari Salafussoleh tetapi orang pertama yang menciptanya ialah Sheikh Ibnu Taimiyyah.
Beliau juga menyatakan bahawa pendapat yang menyatakan bahawa tauhid rububiah sahaja tidak mencukupi bagi keimanan seseorang adalah pendapat yang diadakan-diadakan dan bercanggah dengan ijmak kaum Muslimin sebelum Ibnu Taimiyyah.
*Prof. Dr. Muhammad Sa’id al Ramadhan Bouti, Ulama Kontemporari Dunia Islam dari Syria.
Beliau menyatakan dengan tegas bahawa pembahagian tauhid ini adalah bidaah dalam Seminar Pengurusan Fatwa Negara-negara Asean anjuran Universiti Sains Islam Malaysia pada pada 16 hingga 17 April 2005 di Hotel Nikko Kuala Lumpur.
*Prof. Dr. Isa ibn Abdullah Mani’ al Himyari - Mantan Pengarah Jabatan Waqaf dan Hal Ehwal Islam Dubai.
Beliau telah menulis mengenai kepincangan pembahagian tauhid ini di dalam kitabnya yang bertajuk ‘al Fath al Mubin fi Bara’at al Muwahhidin min ‘Aqaid al Musyabbihin.
*Al ‘Allamah Abu Abdullah ‘Alawi al Yamani dalam kitabnya Intabih Dinuka fi Khatorin.
Kitab ini telah mendapat pujian dari lima ulama besar Yaman.
*Al ‘Allamah Abu al Hasanain Abdullah ibn Abdur Rahman al Makki al Syafi’i, ulama besar Mekah.
Beliau juga telah membahaskan masalah ini di dalam kitabnya al Qaul al Wajih fi Tanzih Allah Taala ‘an al Tasybih.
*Dr. Sheikh Yusof al Bakhur al Hasani salah seorang ahli fatwa di Kanada juga telah menulis risalah mengenainya.
*Sheikh Sirajuddin Abbas seorang ulama unggul Indonesia, juga menghuraikan masalah ini yang ditulis dalam versi Melayu dalam kitabnya Akidah Ahli Sunnah wal Jamaah.
Beliau dengan tegas menyatakan bahawa tauhid ini merupakan iktikad rekaan puak Wahhabi dan bukannya iktikad ASWJ.
Dalam satu petikan, beliau menyatakan: Kaum Wahhabi mencipta pengajian baru ini bertujuan untuk menggolongkan orang-orang yang datang menziarahi Makam Nabi SAW di Madinah, orang-orang yang berdoa dengan bertawassul dan orang yang meminta syafaat Nabi SAW serupa dengan orang kafir yang dikatakan bertauhid rububiah itu.
*Al ‘Allamah Muhammad al ‘Arabi ibn al Tabbani al Hasani, Tenaga Pengajar di Masjid al Haram.
Beliau juga turut menulis kepincangan tauhid ini di dalam kitabnya Bara’ah al Asy’ariyyin min ‘Aqaid al Mukhalifin.
*Dr. Umar Abdullah Kamil, sarjana dan pakar ekonomi Arab Saudi serta ahli eksekutif Universiti al Azhar.
Beliau pernah membentangkan kebatilan konsep Tauhid 3 Serangkai ini di dalam Seminar Perpaduan Ummah dan Pemurniaan Akidah anjuran Kerajaan Negeri Pahang pada 25-26 Ogos 2006 dan di Multaqa 3 Ulama Mekah al Mukarramah yang dianjurkan oleh Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Johor pada 20 Februari 2008.
Kertas kerja tersebut telah diterbitkan oleh Sekretariat Penjelasan Hukum Berkenaan Isu-isu Aqidah dan Syariah Majlis Agama Islam Johor.
Beliau turut membahaskan kepincangan pembahagian tauhid ini di dalam kitabnya yang bertajuk Kalimah Hadi’ah fi Bayan Khata’ al Taqsim al Thulasi li al Tauhid (Perkataan yang tenang dalam menjelaskan kesalahan pembahagian yang tiga bagi ilmu Tauhid).
*Al Allamah Abdur Rahman Hasan Habannakah al Maidani.
Beliau juga telah menulis masalah ini secara khusus di dalam kitabnya yang bertajuk Tauhid al Rububiah wa Tauhid al Ilahiyyah wa Mazahib al nas bi al Nisbah Ilaihima.
Ulama-ulama ini telah lama melakukan pengkajian dan penelitian rapi terhadap tauhid tiga serangkai ini.
Kepada pembaca yang prihatin dan bijaksana sebaik-baiknya mendapatkan keterangan lanjut dari kitab-kitab ini terlebih dahulu sebelum berani membuat kesimpulan dan melontarkan pendapat di khalayak ramai.
Asas sahih
Perkara agama apatah lagi berkaitan dengan akidah tidak boleh dibuat kesimpulan sebarangan tetapi perlu merujuk kepada asas yang sahih.
Untuk mempertahankan agama tidak cukup bermodalkan semangat juang dan sijil menjela-jela semata-mata sehingga kita terpekik dan terlolong tidak kena pada tempatnya tetapi memerlukan kemantapan ilmu, kecemburuan terhadap penodaan yang dilakukan ke atas agama dan umatnya, keikhlasan kepada Allah dan hati yang disinari cahaya oleh Allah.
Ibnu Taimiyyah dan pengikut-pengikutnya didapati telah menjadikan konsep pembahagian tauhid ini sebagai batu loncatan untuk mengkafirkan umat Islam.
Mereka telah mengkafirkan orang-orang yang bertawassul dengan Rasulullah SAW dan wali-wali, orang-orang yang menziarahi kubur dan sebagainya dengan dakwaan orang yang melakukan pekerjaan tersebut bertauhid dengan tauhid rububiah sahaja tetapi tidak tidak bertauhid dengan tauhid uluhiah.
Mereka menyamakan tauhid yang dimiliki oleh orang-orang yang melakukan pekerjaan ini sama dengan orang musyrikin yang menjadikan berhala sebagai sampingan mereka dengan Allah.
Apakah pernah ketika Rasulullah SAW berdakwah, Baginda SAW mengatakan kepada orang yang memeluk Islam kamu telah mempunyai tauhid rububiah tetapi masih belum memiliki tauhid uluhiah?
Apakah boleh kita katakan orang bukan Islam juga mempunyai tauhid seperti orang Islam atau ahli tauhid?
Objektif tauhid Asma’ dan Sifat digembar-gemburkan untuk menyandarkan kepada Allah SAW makna perkataan tangan, mata, bersemayam, ketawa, turun dan sifat penyerupaan yang lain kepada makna yang hakiki yang dikenali di sisi makhluk.
Maha Suci Allah daripada apa yang mereka sifatkan kerana yang demikian itu menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.
Sehubungan dengan ini, umat Islam diseru agar sama-sama berfikir dan meneliti dengan hati yang lapang dan dada yang terbuka rasional perkara ini.
Kita seharusnya berbangga dengan ramainya bilangan umat Islam dan berusaha menambah bilangan umat Islam tetapi sebaliknya kita sendiri yang mengecilkan lagi kuantiti umat Islam yang semakin hilang kualitinya hanya kerana permasalahan uluhiah dan rububiah yang sengaja ditimbulkan.
Tidak ada suatu perkara yang lebih buruk daripada mengkafirkan orang Islam yang menyebut kalimah tauhid Laa ilaaha illallah dan mentasdiqkannya di dalam hati.
Banyak kemusnahan yang berlaku di negara-negara Islam disebabkan oleh perkara ini. Kita sendiri telah menyaksikan dengan mata kepala kita bagaimana persengketaan umat Islam telah mencetuskan kelemahan dan kemusnahan terhadap negara-negara Islam seperti di Afghanistan, Yaman, Lebanon, Syria, Mesir dan sebagainya.
Semoga persengketaan dan kehancuran ini tidak terjadi di negara kita Malaysia yang tercinta ini. Justeru, sewajarnya pembahagian ini dibentangkan di atas meja perbincangan secara ilmiah dan profesional serta berlandaskan kepada usul kitab dan sunnah.
Ini hanyalah lontaran awal dari hasil penelitian kami yang dirujuk kepada sumber-sumber yang sahih dan tokoh-tokoh ulama yang berkeahlian. Insya-Allah, penerangan lanjut mengenai tauhid ini akan dikeluarkan pada keluaran akan datang.
Bahan-bahan yang bakal dipersembahkan banyak merujuk kepada kitab penulisan Imam al Haramain al ‘Allamah Ibnu al ‘Arabi al Tabbani bertajuk Bara’ah al Asy’ariyyin. Ia telah diringkaskan oleh al Allamah Prof. Dr. Isa ibn Abdullah Mani’ al Himyari, Mantan Pengarah Jabatan Waqaf dan Hal Ehwal Islam Dubai di dalam kitabnya yang bertajuk ‘al Fath al Mubin fi Bara’at al Muwahhidin min ‘Aqaid al Musyabbihin.
Baca lagi di Islam vs Wahabi
Posted 2 weeks, 4 days ago at 11:06 am. Add a comment